Hikayat

1. Pengertian Hikayat
Hikayat adalah karya sastra melayu lama yang berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, silsilah raja-raja, biografi, atau gabungan dari semuanya.

2. Ciri-ciri Hikayat

  1.  Isi cerita berkisar pada tokoh-tokoh raja dan keluarganya (istana sentris)
  2. Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika tersendiri yang tidak sama dengan logika umum, ada juga yang menyebut fantastis
  3.  Menggunakan banyak bahasa kiasan
  4.  Banyak kata-kata yang sulit dipahami
  5.  Struktur kalimatnya tidak efektif Anonim : Pengarangnya tidak dikenal
  6. Istana Sentris : Menceritakan tokoh yang berkaitan dengan kehidupan istana/ kerajaan
  7. Bersifat Statis : Tetap, tidak banyak perubahan
  8. Bersifat Komunal : Menjadi milik masyarakat
  9. Menggunakan bahasa klise : Menggunakan bahasa yang diulang-ulang
  10. Bersifat Tradisional : Meneruskan budaya/ tradisi/ kebiasaan yang dianggap baik
  11. Bersifat Didaktis : Didaktis moral maupun didaktis religius (Mendidik)
  12. Menceritakan Kisah Universal Manusia : Peperangan antara yang baik dengan yang buruk, dan dimenangkan oleh yang baik
  13. Magis : Pengarang membawa pembaca ke dunia khayal imajinasi yang serba indah

3. Macam-macam Hikayat berdasarkan isinya :

  1. Cerita Rakyat
  2. Epos India
  3. Cerita dari Jawa
  4. Cerita-cerita Islam
  5. Sejarah dan Biografi
  6. Cerita berbingkat

4. Macam-macam Hikayat berdasarkan asalnya :

1. Melayu Asli
    Hikayat Hang Tuah (bercampur unsur islam)
    Hikayat Si Miskin (bercampur unsur isl;am)
    Hikayat Indera Bangsawan
    Hikayat Malim Deman
2. Pengaruh Jawa
    Hikayat Panji Semirang
    Hikayat Cekel Weneng Pati
    Hikayat Indera Jaya (dari cerita Anglingdarma)
3. Pengaruh Hindu (India)
    Hikayat Sri Rama (dari cerita Ramayana)
    Hikayat Perang Pandhawa (dari cerita Mahabarata)
    Hikayat Sang Boma (dari cerita Mahabarata)
    Hikayat Bayan Budiman
4. Pengaruh Arab-Persia
    Hikayat Amir Hamzah (Pahlawan Islam)
    Hikayat Bachtiar
    Hikayat Seribu Satu Malam

5. Unsur Intrinsik Dan Ekstrinsik dalm Hikayat
Karya sastra disusun oleh dua unsur yang menyusunnya. Dua unsur yang dimaksud ialah unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik ialah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karya sastra, seperti : tema, tokoh dan penokohan, alur dan pengaluran, latae dan pelataran, dan pusat pengisahan. Sedangkan unsur ekstrinsik ialah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari luarnya menyangkut aspek sosiologi, psikologi, dan lain-lain.

1. Unsur Intrinsik
a) Tema dan Amanat
Tema ialah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya sastra. Tema mayor ialah tema yang sangat menonjol dan menjadi persoalan. Tema minor ialah tema yang tidak menonjol.
Amanat ialah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan di dalam karya sastra. Amanat biasa disebut makna. Makna dibedakan menjadi makna niatan dan makna muatan.

  1. Makna niatan ialah makna yang diniatkan oleh pengarang bagi karya sastra yang ditulisnya.
  2. Makna muatan ialah makana yang termuat dalam karya sastra tersebut.

b) Tokoh dan Penokohan
Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh bulat (round character).
Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalny6a baik saja atau buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini. Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula tokoh protagonis dan antagonis. Protagonis ialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.
Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. Ada beberapa cara menampilkan tokoh.

  1. Cara analitik, ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung.
  2. Cara dramatik, ialah cara menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita.
    Dialog ialah cakapan antara seorang tokoh dengan banyak tokoh.
  3. Dualog ialah cakapan antara dua tokoh saja.
  4. Monolog ialah cakapan batin terhadap kejadian lampau dan yang sedang terjadi.
  5. Solilokui ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akan terjadi.

c) Alur dan Pengaluran
Alur disebut juga plot, yaitu rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang padu bulat dan utuh. Alur terdiri atas beberapa bagian :
(1) Awal, yaitu pengarang mulai memperkenalkan tokoh-tokohnya.
(2) Tikaian, yaitu terjadi konflik di antara tokoh-tokoh pelaku.
(3) Gawatan atau rumitan, yaitu konflik tokoh-tokoh semakin seru.
(4) Puncak, yaitu saat puncak konflik di antara tokoh-tokohnya.
(5) Leraian, yaitu saat peristiwa konflik semakin reda dan perkembangan alur mulai terungkap.
(6) Akhir, yaitu seluruh peristiwa atau konflik telah terselesaikan.
Pengaluran, yaitu teknik atau cara-cara menampilkan alur. Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur erat dan alur longggar. Alur erat ialah alur yang tidak memungkinkan adanya pencabangan cerita. Alur longgar adalah alur yang memungkinkan adanya pencabangan cerita. Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur tunggal dan alur ganda. Alur tunggal ialah alur yang hanya satu dalam karya sastra. Alur ganda ialah alur yang lebih dari satu dalam karya sastra. Dari segi urutan waktu, pengaluran dibedakan kedalam alur lurus dan tidak lurus. Alur lurus ialah alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus ialah alur yang melukiskan tidak urut dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus bisa menggunakan gerak balik (backtracking), sorot balik (flashback), atau campauran keduanya.

d) Latar dan Pelataran
Latar disebut juga setting, yaitu tempat atau waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sebuah karya sastra. Latar atau setting dibedakan menjadi latar material dan sosial. Latar material ialah lukisan latar belakang alam atau lingkungan di mana tokoh tersebut berada. Latar sosial, ialah lukisan tatakrama tingkah laku, adat dan pandangan hidup. Sedangkan pelataran ialah teknik atau cara-cara menampilkan latar.

e) Pusat Pengisahan
Pusat pengisahan ialah dari mana suatu cerita dikisahkan oleh pencerita. Pencerita di sini adalah pribadi yang diciptakan pengarang untuk menyampaikan cerita. Paling tidak ada dua pusat pengisahan yaitu pencerita sebagai orang pertama dan pencerita sebagai orang ketiga. Sebagai orang pertama, pencerita duduk dan terlibat dalam cerita tersebut, biasanya sebagai aku dalam tokoh cerita. Sebagai orang ketiga, pencerita tidak terlibat dalam cerita tersebut tetapi ia duduk sebagai seorang pengamat atau dalang yang serba tahu.

f) Amanat

Amanat merupakan ajaran moral atau pesan didaktis yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya. Amanat biasanya tersimpan rapat dan disembunyikan pengarangnya dalam keseluruhan isi cerita. Oleh karena itu, untuk menemukarinya, tidak cukup dengan membaca dua atau tiga paragraf, melairikan harus

2. Unsur Ekstrinsik
Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom, tetapi selalu pasti berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan, pembaca sastra, serta kejiwaan mereka. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri. Untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik, diperlukan bantuan ilmu-ilmu kerabat seperti sosiologi, psikologi, filsafat, dan lain-lain.

HIKAYAT BAYAN BUDIMAN CERITA NABI SULAIMAN MENDENGAR KATA LANDAK

Alkisah Bayan berhikayat. Maka kata Bayan, “ Sekali Peristiwa Nabi Sulaiman alaihi`salam dipersembahkan oleh raja jin air ma`al hayat pada suatu bejana kecil. Maka Nabi Allah Sulaiman pun bertanyakan khasiat air ma`al hayat itu kepada seorang menteri baginda yang bernama Asad. Maka sembah menteri Asad itu, “Ya, tuanku syah Alam! Baiklah tuanku minum, supaya kekal hidup Syah Alam hingga hari kiamat.”
Maka Nabi Allah Sulaiman pun bertanya pula kepada menteri baginda jin yang bernama afrit itu, “Baiklah, supaya segala penyakit didalam tubuh Syah Alam hingga hari kiamat.”
Maka Nabi Sulaiman pun bertanya kepada menteri baginda bernama Burung Ukab, demikianlah titah baginda,”Hai menteriku! Betapakah bicaramu? Aku minumkah air ini atau jangankah?”
Maka sembah menteri Ukab,”baik Syah Alam minum, supaya duli Syah Alam boleh kembali muda pula.”
Setelah itu, Nabi Allah Sulaiman pun bertanya kepada menteri Asad,”baiklah tuanku minum, supaya duli tuanku bertambah-tambah baik paras, tetapi pada antara patik ini daripada segala binatang yang terlebih bijaksana lagi berakal ialah landak itu. Baik duli Syah Alam bertanya kepada landak itu.”
Maka titah Nabi sulaiman, “ Di mana landak itu sekarang?” Maka sembahlah Asad. “ Akan landak itu di dalam lubangnya.” Maka titah Nabi Sulaiman kepada kuda, suruh pergi memanggil landak itu, katanya,.” Hai landak! Titah panggil engkau segera kemari.”

Maka kata Landak,”Mohonlah hamba dahulu.”
Maka kuda itu pun kembalilah menghadap baginda Sulaiman. Demi Nabi Sulaiman mendengar sembah kuda itu, maka murkalah Nabi Sulaiman akan landak.
Maka bertitah pula Nabi Sulaiman kepada anjing,” Pergilah engkau panggil landak itu. Jika tiada ia mau kemari, hendaklah engkau gagahi bawa kemari juga; baik jahat pun bawalah olehmu.”
Maka anjing pun pergilah dengan segera. Setelah sapai ia ke lubang landak itu, maka ia pun bertempik, katanya,”Hai landak! Marilah Engkau dipanggil oleh Nabi Allah Suliman. Segeralah engkau ke luar. Jika tiada mau dengan baik, dengan jahat aku bawa menghadap.”
Maka landak pun terkejut mendengar sura anjing itu terklalu hebat bunyinya. Maka segeralah ia berlari-lari datang menghadap Nabi Allah Sulaiman. Maka landak pun sujud kepalanya ke tanah.
Maka titah Raja Sulaiman kepada menterinya, manatah katamu landak ini berakal lagi bijakasana. Mengapa kesuruh panggil kepada kuda kenaikan aku yang mulia, tiada ia mau kemari, maka kusuruh panggil kepada anjing yang hina itu, maka segera ia datang
Maka menteri itu pun menjunjung duli titah Raja Sulaiman itu kepada landak.
Maka sahut landak,” Hai menteri yang budiman! Sebenarnyalah titah duli Syah Alam itu, tetapi tidakah tuan hamba tahu akan kasiatnya? Adapun akan kuda itu suatu binatang yang mulia, sekali-kali tiada ia akan berbuat fitnah kepada hamba; sebagaimana kata hamba. Demikianlah dipersembahkannya ke bawah duli syah alam dengan sembah durhaka. Jadi, durhakalah hamba. Sebab itulah maka hamba segera datang, takut hamba dikatakan durjaka ke bawah duli Syah Alam itu.”
Setelah didengar raja Sulaiman sembah landak itu, maka titah Raja Sulaiman,” Hai landak! Hampirlah engkau kepada aku! Aku hendak bertanya kepadamu, bahwa aku dipersembahkakan Raja jin air ma`al hayat di dalam benjana. Betapa bicaramu? Baiklah aku minum atau janganjah aku minum ? Hendaklah engkau berdatang sembah yang benar kepada aku..”
Demi landak mendengar titah Raja Sulaiman, maka ia pun menunduklah kepala-nya seraya berfikir di dalam hatinya. Seketika lagi maka ditanya pula oleh Raja Sulaiman, “ Hai landak! Mengapakah engkau berdiam dirimu menunduk seperti kuang tiada berdatang sembah kepada aku?”
Maka landak pun segera menggerakan kepalanya. Maka sembah landak.” Ampun tuank, beribu-ribu ampun! Patik ini binatang yang hina memohonkan ampun. Sekiranya duli Syah Alam santap air ma1al-hayat itu, terlalu baik. Umur Syah Alam pun lanjut dan penyakit pun tiada di dalam tubuh. Duli Alam Syah pun mUda selama-lamanya. Tetapi, jahatnya pun ada juga.”
Maka titah Raja Sulaiman “apa jahatnya?”
Maka Sembah landak,” Jika Duli Syah Alam santap air mata ma`al-hayat itu, tiadalah Syah Alam mati, cucu cicit Syah Alam pun mati, dan rakyat bala tentara duli Syah Alam pun mati, hingga duli tuanku seorang yang juga hidup. Apakah gunanya hidup yang demikian itu?”
Maka titah Nabi Sulaiman, “Sungguhlah katamu, hai landak! Hidup yang demikian itu tiada gunanya.”
Maka benjana air ma`al al-hayat itu dempaskan ke bumi oleh Nabi Allah Sulaiman alaihi as-salam.”
Maka kata Bayan,”Demikian hikayat Raja Sulaiman menurutkan kata binatang landak. Akan sekarang tuan hamba turutlah juga kata hamba ini. Pergilah tuan hamba pada anak raja itu.”
Maka istri khoja Maimun pun berjalanlah baharu hingga pintu maka haripun sianglah. Maka istri Khoja berjalanlah balik naik ke rumahnya tidur di atas geta gading.
Setelah hari malam, orang pun habis tidur, maka istri khoja Maimun pun bangun. Setelah sudah, maka ia pun datanglah pula kepada Bayan, serya katanya,” HAi raja segala burung di dalam ala mini, yang amat budiman dan memberi manfaat segala pekerjaan! Berilah kepadaku izin pergi kepada kekasihku itu!”
Maka kata Bayan,”Ya Siti yang amat elok lagi bijaksana, tidakah tuan menurut kata hamba ini? Baik juga tuan pergi. Malam pun telah sunyi. Akan tetapi, ingat-ingat ttuan, karena tuan ada memeliharakan unggas yang hina ini lagi tiada tahu membalas guna; adalah hamba ini seperti hikayatSabur, tatkala ia memelihara pesan raja Damsyik, maka jadi terpeliharalah ia dripada kejahatan.”
Maka istri Khoja Maimun pun bertanya,”Betapakah hikayat Sabur itu?”
Maka Sahut Bayan,”Mengapa Juga tuan ini gila-gila mendengar hikayat? Pergilah tuan hamba dahulu. Insya Allah esok harilah hamba berhikayat, karena hamba lihat sangatlah kasihan akan ank raja itu ternanti-nanti.”
Maka istri Khoja Maimun,” jika kamu kasihan aku, berkhikayatlah dahulu. Sekarang aku pergi.”

 

SEORANG KAKEK DAN SEEKOR ULAR
Pada zaman dahulu, tersebutlah ada seorang kakek yang cukup disegani. Ia dikenal takut kepada Allah, gandrung pada kebenaran, beribadah wajib setiap waktu, menjaga salat lima waktu dan selalu mengusahakan membaca Al-Qur’an pagi dan petang. Selain dikenal alim dan taat, ia juga terkenal berotot kuat dan berotak encer. Ia punya banyak hal yang menyebabkannya tetap mampu menjaga potensi itu.

Suatu hari, ia sedang duduk di tempat kerjanya sembari menghisap rokok dengan nikmatnya (sesuai kebiasaan masa itu). Tangan kanannya memegang tasbih yang senantiasa berputar setiap waktu di tangannya. Tiba-tiba seekor ular besar menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. Rupanya, ular itu sedang mencoba menghindar dari kejaran seorang laki-laki yang (kemudian datang menyusulnya) membawa tongkat.

“Kek,” panggil ular itu benar-benar memelas, “kakek kan terkenal suka menolong. Tolonglah saya, selamatkanlah saya agar tidak dibunuh oleh laki-laki yang sedang mengejar saya itu. Ia pasti membunuh saya begitu berhasil menangkap saya. Tentunya, kamu baik sekali jika mau membuka mulut lebar-lebar supaya saya dapat bersembunyi di dalamnya. Demi Allah dan demi ayah kakek, saya mohon, kabulkanlah permintaan saya ini.”

“Ulangi sumpahmu sekali lagi,” pinta si kakek. “Takutnya, setelah mulutku kubuka, kamu masuk ke dalamnya dan selamat, budi baikku kamu balas dengan keculasan. Setelah selamat, jangan-jangan kamu malah mencelakai saya.”

Ular mengucapkan sumpah atas nama Allah bahwa ia takkan melakukan itu sekali lagi. Usai ular mengucapkan sumpahnya, kakek pun membuka mulutnya sekira-kira dapat untuk ular itu masuk.

Sejurus kemudian, datanglah seorang pria dengan tongkat di tangan. Ia menanyakan keberadaan ular yang hendak dibunuhnya itu. Kakek mengaku bahwa ia tak melihat ular yang ditanyakannya dan tak tahu di mana ular itu berada. Tak berhasil menemukan apa yang dicarinya, pria itu pun pergi.

Setelah pria itu berada agak jauh, kakek lalu berbicara kepada ular: “Kini, kamu aman. Keluarlah dari mulutku, agar aku dapat pergi sekarang.”

Ular itu hanya menyembulkan kepalanya sedikit, lalu berujar: “Hmm, kamu mengira sudah mengenal lingkunganmu dengan baik, bisa membedakan mana orang jahat dan mana orang baik, mana yang berbahaya bagimu dan mana yang berguna. Padahal, kamu tak tahu apa-apa. Kamu bahkan tak bisa membedakan antara makhluk hidup dan benda mati.”

“Buktinya kamu biarkan saja musuhmu masuk ke mulutmu, padahal semua orang tahu bahwa ia ingin membunuhmu setiap ada kesempatan. Sekarang kuberi kamu dua pilihan, terserah kamu memilih yang mana; mau kumakan hatimu atau kumakan jantungmu? Kedua-duanya sama-sama membuatmu sekarat.” Kontan ular itu mengancam.

“La haula wa la quwwata illa billahi al`aliyyi al-`azhim [tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah yang Maha Tinggi dan Agung] (ungkapan geram), bukankah aku telah menyelamatkanmu, tetapi sekarang aku pula yang hendak kamu bunuh? Terserah kepada Allah Yang Esa sajalah. Dia cukup bagiku, sebagai penolong terbaik.” Sejurus kemudian kakek itu tampak terpaku, shok dengan kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya, perbuatan baiknya berbuah penyesalan.

Kakek itu akhirnya kembali bersuara, “Sebejat apapun kamu, tentu kamu belum lupa pada sambutanku yang bersahabat. Sebelum kamu benar-benar membunuhku, izinkan aku pergi ke suatu tempat yang lapang. Di sana ada sebatang pohon tempatku biasa berteduh. Aku ingin mati di sana supaya jauh dari keluargaku.”

Ular mengabulkan permintaannya. Namun, di dalam hatinya, orang tua itu berharap, “Oh, andai Tuhan mengirim orang pandai yang dapat mengeluarkan ular jahat ini dan menyelamatkanku.”

Setelah sampai dan bernaung di bawah pohon yang dituju, ia berujar pada sang ular: “Sekarang, silakan lakukanlah keinginanmu. Laksanakanlah rencanamu. Bunuhlah aku seperti yang kamu inginkan.”

Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang mengalun merdu tertuju padanya:
“Wahai Kakek yang baik budi, penyantun dan pemurah. Wahai orang yang baik rekam jejaknya, ketulusan dan niat hatimu yang suci telah menyebabkan musuhmu dapat masuk ke dalam tubuhmu, sedangkan kamu tak punya cara untuk mengeluarkannya kembali. Cobalah engkau pandang pohon ini. Ambil daunnnya beberapa lembar lalu makan. Moga Allah sentiasa membantumu.”

Anjuran itu kemudian ia amalkan dengan baik sehingga ketika keluar dari mulutnya ular itu telah menjadi bangkai. Maka bebas dan selamatlah kakek itu dari bahaya musuh yang mengancam hidupnya. Kakek itu girang bukan main sehingga berujar, “Suara siapakah yang tadi saya dengar sehingga saya dapat selamat?”

Suara itu menyahut bahwa dia adalah seorang penolong bagi setiap pelaku kebajikan dan berhati mulia. Suara itu berujar, “Saya tahu kamu dizalimi, maka atas izin Zat Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri (Allah) saya datang menyelamatkanmu.”

Kakek bersujud seketika, tanda syukurnya kepada Tuhan yang telah memberi pertolongan dengan mengirimkan seorang juru penyelamat untuknya.”

Di akhir ceritanya, si Saudi berpesan:
“Waspadalah terhadap setiap fitnah dan dengki karena sekecil apapun musuhmu, ia pasti dapat mengganggumu. Orang jahat tidak akan pernah menang karena prilakunya yang jahat.”

Kemudian si Saudi memelukku dan memeluk anakku. Pada istriku dia mengucapkan selamat tinggal. Ia berangkat meninggalkan kami. Hanya Allah yang tahu betapa sedihnya kami karena berpisah dengannya. Kami menyadari sepenuhnya perannya dalam menyelamatkan kami dari lumpur kemiskinan sehingga menjadi kaya-raya.

Namun, belum beberapa hari dia pergi, aku sudah mulai berubah. Satu persatu nasehatnya kuabaikan. Hikmah-hikmah Sulaiman dan pesan-pesannya mulai kulupakan. Aku mulai menenggelamkan diri dalam lautan maksiat, bersenang-senang dan mabuk-mabukan. Aku menjadi suka menghambur-hamburkan uang.

Akibatnya, para tetangga menjadi cemburu. Mereka iri melihat hartaku yang begitu banyak. Mengingat mereka tidak tahu sumber pendapatanku, mereka lalu mengadukanku kepada kepala kampung. Kepala kampung memanggilku dan menanyakan dari mana asal kekayaanku. Dia juga memintaku untuk membayarkan uang dalam jumlah yang cukup besar sebagai pajak, tetapi aku menolak. Ia memaksaku untuk mematuhi perintahnya seraya menebar ancaman.

Setelah membayar begitu banyak sehingga yang tersisa dari hartaku tak seberapa, suatu kali bayaranku berkurang dari biasanya. Dia pun marah dan menyuruh orang untuk mencambukku. Kemudian ia menjebloskan aku ke penjara. Sudah tiga tahun lamanya saya mendekam di penjara ini, merasakan berbagai aneka penyiksaan. Tak sedetikpun saya lewatkan kecuali saya meminta kepada Zat yang menghamparkan bumi ini dan menjadikan langit begitu tinggi agar segera melepaskan saya dari penjara yang gelap ini dan memulangkan saya pada isteri dan anak-anak saya.

Namun, tentu saja, saya takkan dapat keluar tanpa budi baik dari Baginda Rasyid, Baginda yang agung dan menghukum dengan penuh pertimbangan.

Khalifah menjadi terkejut dan sedih mendengar ceritanya. Khalifah pun memerintahkan agar ia dibebaskan dan dibekali sedikit uang pengganti dari kerugian yang telah ia derita dan kehinaan yang dialaminya. Ia pun memanjatkan doa dengan khusyu kepada Allah, satu-satunya Dzat yang disembah, agar Khalifah Amirul Mukminin senantiasa bermarwah dan berbahagia, selama matahari masih terbit dan selama burung masih berkicau.

Para napi di penjara Baghdad semakin banyak mendoakan agar Khalifah berumur panjang setelah Khalifah meninggalkan harta yang cukup banyak buat mereka.

Khalifah lalu kembali ke istananya yang terletak di pinggir sungai Tigris. Di istana telah menunggu siti Zubaidah. Khalifah lalu menceritakan apa yang sudah dilakukannya, Zubaidah pun senang mendengarnya. Ia mengucapkan terima kasih dan memuji Khalifah karena telah berbuat baik. Zubaidah juga mendoakan agar Khalifah panjang umur.

 

https://www.youtube.com/watch?v=Szy2dyaUYCU

https://www.youtube.com/watch?v=NkDGuxDj_OQ

https://www.youtube.com/watch?v=Q2qNvgpnc74

Leave a Reply