Analisis Hikayat dan mengkonversinya menjadi cerpen by ahmad aldi x IIS 1

Tugas Hikayat dari Ahmad Aldi X IIS 1

Ajisaka


Pada jaman dahulu, di Pulau Majethi hidup seorang satria tampan bernama Ajisaka. Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa, Dora dan Sembada namanya. Kedua punggawa itu sangat setia kepada pemimpinnya, sama sekali tidak pernah mengabaikan perintahnya. Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan pergi berkelanan meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani oleh punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan bahwa Sembada tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali kepada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya.

 

Ganti cerita, pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan. Rajanya bernama Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan kepada Sang Prabu. Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut  , Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak,  sehingga ia mengutus Sang Patih untuk menanyai Ki Juru Masak. Setelah mengetahui bahwa yang disantap tadi adalah daging manusia, sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya. Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran yang menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah   menjadi bengis dan senang menganiaya. Negara Medhangkamulan beubah menjadi wilayah yang   angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa oleh rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri.  Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan kepada rajanya.

Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya, Dora, tiba di Medhangkamulan, heranlah Sang Satria melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan,   Ajisaka lalu menghadap Rekyana Patih, menyatakan kesanggupannya untuk menjadi santapan Prabu Dewatacengkar. Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila   Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap Sang Prabu, namun Ajisaka sudah bulat tekadnya, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu. Sang Prabu tak habis pikir, mengapa orang yang sedemikian tampan dan masih muda mau menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya.   Ajisaka mengatakan bahwa ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalakan ia dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya. Di samping itu, harus  Sang rabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya. Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa semakin mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut selatan. Ikat kepala tersebut   kemudian dikibaskan oleh Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar   jatuh  ke laut.  Seketika    wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka     kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.

Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke Pulo Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di Pulo Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka. Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas.

Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu.

Ha Na Ca Ra Ka
Ana utusan (ada utusan)
Da Ta Sa Wa La
Padha kekerengan (saling berselisih pendapat)
Pa Dha Ja Ya Nya
Padha digdayané (sama-sama sakti)
Ma Ga Ba Tha Nga
Padha dadi bathangé (sama-sama mejadi mayat)

 

 

 

 

·         Unsur Intrisnsik

Tokoh                : Aji Saka                    : Berani, cerdas, kurang hati-hati

                             Dora                          : Setia & selalu menuruti perintah.

                             Sempada                   : Setia & selalu menuruti perintah.

                             Prabu Dewatacengkar            : Bengis & senang menganiaya.

Tema                  :

Alur                   : Maju.

Sudut Pandang  : Orang ketiga serba tau.

Latar                  : Pulau Majethi, Medhangkamulan.

Amanat              : Perbuatan buruk akan mendapatkan balasan yang buruk juga.

                             Janji harus ditepati.

                           Harus jelas dan hati-hati dalam tindakan dan memberikan tanggung jawab

                                kepada orang lain agar tidak menyesal.

                                 

·         Unsur Ekstrinsik

Latar belakang   : Dilatar belakangi oleh asal mula terbentuknya aksara jawa.

Nilai moral         : Menepati janji.

 

Isi Pokok

Kutipan

Di Pulau Majethi terdapat sorang satria bernama Ajisaka dan kedua punggawanya.

Pada jaman dahulu, di Pulau Majethi hidup seorang satria tampan bernama Ajisaka. Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa, Dora dan Sembada namanya. Kedua punggawa itu sangat setia kepada pemimpinnya, sama sekali tidak pernah mengabaikan perintahnya.

Ajisaka meningggalkan Pulau Majethi bersama Dora. Sembada menjaga pusaka di Pulau Majethi.

Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan pergi berkelanan meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani oleh punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan bahwa Sembada tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali kepada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya.

Di negri Mendhangkamulan terdapat Raja bernama Prabu Dewatacengar.

 Ganti cerita, pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan. Rajanya bernama Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana.

Juru masak Prabu tidak sengaja memasukan potongan jarinya kehidangan yang dimakan prabu.

Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Si Juru Masak tidak menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan kepada Sang Prabu. Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut  , Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak,  sehingga ia mengutus Sang Patih untuk menanyai Ki Juru Masak. Setelah mengetahui bahwa yang disantap tadi adalah daging manusia, sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya.

Watak Prabu berubah 180 derajat setelah menyukai danging manusia.

Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran yang menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah   menjadi bengis dan senang menganiaya. Negara Medhangkamulan beubah menjadi wilayah yang   angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa oleh rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri.  Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan kepada rajanya.

Ajisaka dan Dora yang tiba di Medhangkamulan mennghadap ke Prabu. Untuk menjadikan dirinya sebagai santapan Prabu.

Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya, Dora, tiba di Medhangkamulan. heranlah Sang Satria melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan,   Ajisaka lalu menghadap Rekyana Patih, menyatakan kesanggupannya untuk menjadi santapan Prabu Dewatacengkar.

Ajisaka yang ingin menjadi santapan prabu awalnya tidak diizinkan oleh patih.

. Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila   Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap Sang Prabu, namun Ajisaka sudah bulat tekadnya, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu. Sang Prabu tak habis pikir, mengapa orang yang sedemikian tampan dan masih muda mau menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya.   Ajisaka mengatakan bahwa ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalakan ia dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya. Di samping itu, harus  Sang rabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut.

Prabu menarik ikat kepala Ajisaka yang panjang hingga terjatuh ke laut dan menjadi buaya putih.

. Sang Prabu menyanggupi permintaannya. Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa semakin mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut selatan. Ikat kepala tersebut   kemudian dikibaskan oleh Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar   jatuh  ke laut.  Seketika    wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka     kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.

Ajisaka menjadi raja Medhangkamulan dan memerintah Dora untuk menjemput pusakanya.

Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke Pulo Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di Pulo Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka.

Sembada tidak mau memberikan pusak ke Dora, sehingga terjadilah pertempuaran diantara mereka berdua . Hingga pada akhirnya mereka sama-sama tewas.

Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas.

Ajisaka menyesal atas kematian 2 punggawanya. Ajisaka menciptakan aksara jawa untuk mengabdikan ke-2 punggawanya.

Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu.

Ha Na Ca Ra Ka
Ana utusan (ada utusan)
Da Ta Sa Wa La
Padha kekerengan (saling berselisih pendapat)
Pa Dha Ja Ya Nya
Padha digdayané (sama-sama sakti)
Ma Ga Ba Tha Nga
Padha dadi bathangé (sama-sama mejadi mayat)

 

·         Identifikasi Karakteristik

Kemustahilan

 

No.

Kemustahilan

Kutipan Teks

1.

Ikat kepala yang panjang hingga ke laut.

  Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa semakin mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut selatan.

2.

Sang prabu berubah menjadi buaya putih.

Ikat kepala tersebut   kemudian dikibaskan oleh Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar   jatuh  ke laut.  Seketika    wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka     kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.

 

·         Kesaktian

o   Ikat kepala Ajisaka bisa sangat panjang, hingga pantai selatan.

 

Merubah Hikayat Menjadi Cerpen

                Di suatu tempat di Pulau Majethi, hiduplah seorang satri tampan bernama Ajisaka. Suatu hari Ajisaka ingin pergi berkelana meninggalkan Pulau Majethi, ia ditemani oleh kedua  punggawanya yang bernama Dora dan Sempada. Kedua punggawa tersebut sangat setia kepada Ajisaka dan tidak pernah mengabaikan perintahnya.

                Suatu hari Ajisaka tiba di negri Mendhangkamulan yang makmur, aman, damai dan tertib yang memiliki Raja bernama Prabu Dewatacengar. Prabu Dewatacengar memiliki budi yang luhur dan bijaksana, namun suatu hari ia tidak sengaja memakan jari juru masak. Prabu yang memakan jari tersebut merasakan daging yang sangat enak, ia pun menanyakan daging apa yang ia makan kepada si juru masak. Setelah mengetahui yang ia makan adalah daging manusia, Prabu  memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya. Semenjak itulah watak Prabu berubah 180 derajat menjadi bengis dan suka menganiaya. Negri Mendhangkamulan pun berubah menjadi negri yang angker dan sepi.

            Pada suatu hari, datanglah Ajisaka dan penggawanya ke Negri Mendhangkamulan. Setelah mendengar cerita dari penduduk setempat, ,   Ajisaka lalu menghadapa Rekyana Patih, menyatakan kesanggupannya untuk menjadi santapan Prabu Dewatacengkar.  Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa kasihan bila   Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap Sang Prabu, namun Ajisaka sudah bulat tekadnya, akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu.  Ajisaka mengatakan bahwa ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalakan ia dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya. Itu pun harus  Sang rabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut. Lalu Sang Prabu menyanggupi permintaannya. Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Prabu terus menariknya sambil mundur hingga terjatuh kelaut dan berubah menjadi buaya putih.

Akhirnta Ajisaka diangkat menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke Pulo Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di Pulau Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka.  Namun Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia memegang perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah Sang Prabu memaksa agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Kedua punggawa itu pun bertempur dengan memegang masing-masing perintah Ajisaka. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang,  hingga akirnya kedua penggawa tersebut sama-sama mati.

Berita tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh  Ajisaka. Ia meras menyesal karena kesetiaan kedua punggawanya tersebut. Kesedihannya itulah yang mebuat Ajisaka menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu. Aksara tersebut lalu dikanel dengan aksara jawa ( aksaro jowo).

Ha Na Ca Ra Ka
Ana utusan (ada utusan)
Da Ta Sa Wa La
Padha kekerengan (saling berselisih pendapat)
Pa Dha Ja Ya Nya
Padha digdayané (sama-sama sakti)
Ma Ga Ba Tha Nga
Padha dadi bathangé (sama-sama mejadi mayat)

Leave a Reply