hikayat dari irsyad ahmad kelas x mipa 7

Hikayat Islam

Ibnu Jarir Ath-Thabari, Salah Seorang yang Disiplin Waktu

Ath-Thabari merupakan seorang sejarawan dan pemikir muslim yang berasal dari Persia, dilahirkan di daerah Amol, Thabaristan (sebelah selatan Laut Kaspia). Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali ath-Thabari, lebih dikenal sebagai Ibnu Jarir atau ath-Thabari. Semasa hidupnya, ia belajar di kota Ray, Baghdad, kemudian Syam dan juga di Mesir.

Di antara karyanya yang terkenal adalah Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Nabi dan Raja), atau lebih dikenal sebagai Tarikh ath-Thabari. Kitab ini berisi sejarah dunia hingga tahun 915, dan terkenal karena keakuratannya dalam menuliskan sejarah Arab dan Muslim.

 Kisah Kedisplinan Waktu Ibnu Jarir Ath-Thabari

Al-Qadhi (hakim) Abu Bakar Ahmad bin Kamil asy-Syajari murid Ibnu Jarir sekaligus sahabatnya berkata, “apabila telah selesai makan pagi Ibnu Jarir ath-Thabari tidur sebentar dengan pakaian berlengan pendek. Setelah bangun beliau mengerjakan shalat Zhuhur. Lalu menulis artikel hingga waktu Ashar tiba. Kemudian keluar untuk Shalat Ashar. Selanjutnya, beliau duduk di majlis bersama orang-orang untuk mengajar sampai datang waktu Maghrib. Setelah itu mengaajar Fikih serta pelajaran-pelajaran lain sampai masuk shalat Isya’, baru beliau pulang ke rumah, Beliau pandai membagi waktu siang dan malamnya untuk kemaslahatan diri, agama dan sesama sebagaimana yang dikendaki Allah Subhaanahu wata’ala.

Menurut al-Khatib al-Baghdadi, “Aku mendengar Samsami menuturkan bahwa Ibnu Jarir selama empat puluh tahun mampu menulis dalam setiap harinya sebanyak empat puluh halaman.Sementara itu menurut muridnya yang lain yakni al-Farghani menceritakan di dalam kitabnya yang terkenal dengan nama ash-Shilah, sebuah pengantar kitab mengenai sejarah Ibnu Jarir, bahwa terdapat sekelompok murid Ibnu Jarir yang berusaha menghitung seberapa banyak karya yang dihasilkannya setiap hari. Sepanjang hidupnya beliau sibuk denga tulis menulis dimulai sejak usia baligh sampai wafat yakni di usia 86 tahun. Kemudian mereka menghitung jumlah lembaran-lembaran itu. Dari penghitungan tersebut dapat diketahui bahwa pada setiap harinya beliau menulis kurang lebih 14 lembar. Jelas ini merupakan sebuah prestasi yang tidak mungkin diraih seorang manusia pun pada waktu itu kecuali berkat Inayah Allah semata.Jika kita kalikan jumlah hari beliau menulis selama 72 tahun sedang setiap hari beluau menulis 14 lembar, maka jumlah karya Ibnu Jarir adalah 300,058 lembar.63

Kemustahilan: selama empat puluh tahun mampu menulis dalam setiap harinya sebanyak empat puluh halaman. Sepanjang hidupnya beliau sibuk denga tulis menulis dimulai sejak usia baligh sampai wafat yakni di usia 86 tahun. Kemudian santrinya menghitung jumlah lembaran-lembaran itu. Dari penghitungan tersebut dapat diketahui bahwa pada setiap harinya beliau menulis kurang lebih 14 lembar. Jelas ini merupakan sebuah prestasi yang tidak mungkin diraih seorang manusia pun pada waktu itu kecuali berkat Inayah Allah semata.. Jika kita kalikan jumlah hari beliau menulis selama 72 tahun sedang setiap hari beliau menulis 14 lembar, maka jumlah karya Ibnu Jarir adalah 300,058 lembar.63

 

Kesaktian:berkat inayah allah Ath-Thabari bias menulis setiap hari hidupnya adalah kurang lebih 14 lembar

 

Anonim : tidak diketahui oleh pengarang cerita

 

Istana Sentris: tidak ada  tentang kerajaan

 

Unsur Intrinsik:

·         Tema :Disiplin dengan waktu

·         Alur   :Maju

·         Latar  : Ray, Baghdad, kemudian Syam dan juga di Mesir.

·         Sudut pandang : orang ketiga serba tahu

·         Amanat : pandai-pandailah membagi waktu

·         Tokoh : – Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali ath-Thabari, lebih dikenal sebagai Ibnu Jarir atau ath-Thabari

Al-Qadhi (hakim) Abu Bakar Ahmad bin Kamil asy-Syajari

          al-Farghani

·         Watak : -Ibnu Jarir atau ath-Thabari : Disiplin dengan waktu

               – Al-Qadhi (hakim) Abu Bakar Ahmad bin Kamil asy-Syajari :sahabat sekaligus murid Ath-Thabari

              – al-Farghani : Murid Ath-Thabari

Ide pokok : Ath-Thabari merupakan seorang sejarawan dan pemikir muslim yang berasal dari Persia, dilahirkan di daerah Amol, Thabaristan (sebelah selatan Laut Kaspia). Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali ath-Thabari, lebih dikenal sebagai Ibnu Jarir atau ath-Thabari. Semasa hidupnya, ia belajar di kota Ray, Baghdad, kemudian Syam dan juga di Mesir.Di antara karyanya yang terkenal adalah Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Nabi dan Raja), atau lebih dikenal sebagai Tarikh ath-Thabari. Kitab ini berisi sejarah dunia hingga tahun 915, dan terkenal karena keakuratannya dalam menuliskan sejarah Arab dan Muslim. Al-Qadhi (hakim) Abu Bakar Ahmad bin Kamil asy-Syajari murid Ibnu Jarir sekaligus sahabatnya berkata, “apabila telah selesai makan pagi Ibnu Jarir ath-Thabari tidur sebentar dengan pakaian berlengan pendek. Setelah bangun beliau mengerjakan shalat Zhuhur. Lalu menulis artikel hingga waktu Ashar tiba. Kemudian keluar untuk Shalat Ashar. Selanjutnya, beliau duduk di majlis bersama orang-orang untuk mengajar sampai datang waktu Maghrib. Setelah itu mengaajar Fikih serta pelajaran-pelajaran lain sampai masuk shalat Isya’, baru beliau pulang ke rumah, Beliau pandai membagi waktu siang dan malamnya untuk kemaslahatan diri, agama dan sesama sebagaimana yang dikendaki Allah Subhaanahu wata’ala.Menurut al-Khatib al-Baghdadi, “Aku mendengar Samsami menuturkan bahwa Ibnu Jarir selama empat puluh tahun mampu menulis dalam setiap harinya sebanyak empat puluh halaman.Sementara itu menurut muridnya yang lain yakni al-Farghani menceritakan di dalam kitabnya yang terkenal dengan nama ash-Shilah, sebuah pengantar kitab mengenai sejarah Ibnu Jarir, bahwa terdapat sekelompok murid Ibnu Jarir yang berusaha menghitung seberapa banyak karya yang dihasilkannya setiap hari. Sepanjang hidupnya beliau sibuk denga tulis menulis dimulai sejak usia baligh sampai wafat yakni di usia 86 tahun. Kemudian mereka menghitung jumlah lembaran-lembaran itu. Dari penghitungan tersebut dapat diketahui bahwa pada setiap harinya beliau menulis kurang lebih 14 lembar. Jelas ini merupakan sebuah prestasi yang tidak mungkin diraih seorang manusia pun pada waktu itu kecuali berkat Inayah Allah semata.Jika kita kalikan jumlah hari beliau menulis selama 72 tahun sedang setiap hari beluau menulis 14 lembar, maka jumlah karya Ibnu Jarir adalah 300,058 lembar

 

  

Leave a Reply