resensi novel fiksi LAYAR TERKEMBANG

 

RESENSI

LAYAR TERKEMBANG

 

 

          Perjuangan Wanita Indonesia

Judul : LAYAR TERKEMBANG

Penulis : ST. TAKDIR ALISJAHBANA

Penerbit : PT. BALAI PUSTAKA

Tahun terbit : 2009

Kota terbit : Jakarta

Jumlah halaman : +  200 halaman

 

          Buku LAYAR TERKEMBANG ini merupakan sebuah cerita roman karya ST. TAKDIR ALISJAHBANA yang mengisahkan perjuangan wanita Indonesia tentang cita-citanya. Buku ini tercatat sebagai buku wajib bacaan sastra SMP&SMA. Menceritakan 2 orang gadis yang bernama Tuti dan Maria yang bersaudara namun memiliki sifat yang berbeda. Tuti adalah anak yang tertua, selalu serius dan aktif dalam berbagai kegiatan wanita sementara itu, Maria adalah gadis yang ceria. Tuti yang menginginkan wanita Indonesia memiliki kebebasan hidup untuk memilih dan jangan menuruti kehendak laki-laki. Setiap hari Tuti selalu menghabiskan tenaga dan waktunya dalam kegiatan-kegiatan yang ia ikuti sampai membuatnya tidak memikirkan hal menikah sedikitpun. Bahkan Tuti juga memutuskan pertunangan nya dengan Hambali. Di tengah-tengah perbedaan kakak beradik ini muncul seorang pria tampan, namanya adalah Yusuf. Yusuf adalah mahasiswa kedokteran di salah satu universitas yang ada di jakarta. Tuti, Maria dan Yusuf bertemu di pasar ikan, seketika itu Maria dan Yusuf jatuh cinta. Yusuf pun mendatangi rumah Maria untuk perkenalan dan dilanjutkan dengan bertunangan. Sementara itu Tuti pun iri melihat Maria dan Yusuf  karena dirinya belum mendapatkan pasangan. Menjelang pernikahannya, Maria diserang penyakit TBC yang membuat Maria di rawat di rumah sakit. Kondisi Maria semakin hari semakin memburuk. Pada umur 22 tahun Maria meninggal dunia dengan meninggal kan sebuah pesan kepada Tuti yaitu bahwa Tuti harus menggantikan posisinya sebagai istri Yusuf. Meskipun berat untuk menerimanya, Tuti dan Yusuf menerima permintaan terakhir dari orang yang sama-sama di cintainya itu. Akhirnya Tuti dan Yusuf bertunangan.

ANALISIS

Unsur Instrinsik :

Tema : Perjuangan wanita Indonesia

Latar / Setting :
Tempat :
• Gedung akuarium di pasar ikan
• Rumah Wiriaatmaja,
• Mertapura di Kalimantan Selatan,
• Rumah Sakit di Pacet,
• Rumah Partadiharja,
• Gedung Permufakatan
Alur : Maju
• Perkenalan : Saat di gedung akurium Yusuf bertemu dengan Maria dan Tuti. Pertemuan itu memberi kesan istimewa pada Yusuf. Hingga akhirnya, Yusuf selalu merasa ingin bertemu dengan Maria. Dari pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan Maria danTuti, Yusuf mulai jatuh cinta kepada Maria. Ternyata perasaan Yusuf dibalas pula oleh Maria. Mereka berdua hingga akhirnya merajut suatu ikatan khusus yang semakin lama semakin mendalam. Pada akhirnya, Yusuf dan Maria bertunangan.
• Konflik : Maria dan Tuti bertengkar hebat. Pertengkaran itu disebabkan oleh kritikan pedas Tuti terhadap Maria. Tuti mengkritik bahwa cinta Maria kepada Yusuf sangat berlebihan dan dapat melemahkan diri Maria sendiri. Tetapi Maria yang hatinya saat itu sedang marah, Ia membalas kritikan Tuti dengan mengatakan bahwa dalam masalah cinta Tuti sangat perhitungan dan tak pernah mau rugi sedikit pun serta Tuti selalu memikirkan kongres ketimbang memikirkan perasaanya. Dan disinilah Tuti sadar bahwa sampai kapanpun Ia tak bisa melawan kodratnya sebagai perempuan yang memiliki perasaan untuk mencinta.
• Klimaks : Suatu ketika Maria terkena penyakit malaria. Penyakit tersebut membuat Maria begitu lemah ditambah lagi penyakit TBC. Hingga pada akhirnya, Maria meninggal dunia.
• Anti Klimaks : Sebelum Maria meninggal dunia, Ia menitipkan pesan terakhirnya kepada Tuti dan Yusuf, yaitu jika kelak Ia meninggal nanti, Ia berharap bahwa Tuti dan Yusuf dapat menikah.
• Penyelesaian : Akhirnya Tuti dan Yusuf menuruti permintaan terakhir Maria. Mereka berdua menikah. Dengan begitu, Tuti tak perlu tersiksa lagi dengan perasaan kesepian yangs elama ini ia coba untuk melawan.

Sudut Pandang : Orang ketiga yang ditandai dengan menggunakan nama dalam menyebutkan tokoh-tokohnya.

Tokoh dan Perwatakan :
• Maria : adalah adik Tuti, yang sangat periang.
• Tuti : seorang wanita yang memiliki wawasan dan pemikiran modern. Ia mencoba menyamakan hak kaum wanita dengan kaum pria.
• Yusuf : seorang pemuda terpelajar yang modern. Ia adalah mahasiswa kedokteran. Sifatnya baik hati dan berbudi luhur.
• Supono : Seorang pemuda terpelajar yang baik hati dan berbudi luhur.
• Wiriaatmaja : Ayah dari Maria dan Tuti, seorang yang memegang teguh agama, baik hati dan penyayang.
• Partadiharja : Adik Ipar Wiriaatmaja, seseorang yang baik hati, teguh pendirian dan peduli antar sesama.
• Saleh : Adik Partadiharja, seorang lulusan sarjana yang sangat peduli akan alam sehingga ia mengabdikan diri sebagai seorang petani.
• Rukamah : Sepupu Tuti dan Maria, seseorang yang baik hati dan suka bercanda.
• Ratna : Istri saleh, Seorang petani yang pandai dan baik hati.
• Juru Rawat : Seorang yang baik hati.

Gaya Penulisan : Didalam novel ini banyak ditemukan majas personifikasi dan banyak menggunakan bahasa Melayu sehingga terlihat agak rancu dan sulit dimengerti.

Amanat / Pesan : Perempuan harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat memberikan pengaruh yang sangat besar didalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan demikian perempuan dapat lebih dihargai kedudukannya di masyarakat.

Unsur Ekstrinsik :
Biografi pengarang :
Sutan Takdir Alisjahbana dilahirkan di Natal, 11 Februari 1908. Beliau merupakan tokoh terkemuka dalam sejarah kesusastraan dan pemikiran kebudayaan di Indonesia. Dia banyak menulis puisi, novel, esai-esai sastra, bahasa serta tulisan ilmiah mengenai filsafat, ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan.
Nilai Agama :
kita menjalankan perintah agama di mulai dari sekarang juga, tidak harus menunggu hari tua.

Nilai Sosial :
Novel ini menceritakan bahwa sesama manusia, apalagi sesama kaum pelajar harus saling membantu. Bantuan itu dapat berupa beasiswa bagi pelajar yang tidak mampu.

Bahasa Pengarang :
Bahasa pengarang adalah bahasa Melayu.Walaupun latar novel Layar Terkembang di Jakarta,bahasa yang digunakan ialah bahasa Melayu.
Unsur kebiasaan , adat , etika :
“…Tiba di muka pekuburan berhenti taxi itu dan keluarlah mereka.Yang perempuan membawa di tangan kanannya karangan bunga…..
Pada batu nisan pualam putih yang berukir tepinya, terlukis dengan air emas yang berkilat-kilat…Maria berpulang…Januari 193… usia 22 tahun.

 

KELEBIHAN :

          Buku ini disertai gambar yang menarik yang membuat kita tidak bosan untuk membacanya.

 

KEKURANGAN :

          Warna dan sampul depan nya yang kurang cerah membuat kita malas untuk membuka buku ini. Buku ini juga tidak disertai dengan daftar isi sehingga menyulitkan kita untuk mencari sesuatu yang ingin kita cari.

Leave a Reply