resensi novel rantau 1 muara

Resensi novel rantau 1 muara

Identitas Buku

Judul                  : Rantau 1 Muara
Jenis Buku        : Novel
Kategori            : Fiksi
Pengarang        : Ahmad Fuadi
Penerbit            : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal                 : 411 halaman
Ukuran              : 13.5 x 20 cm
Tahun Terbit     : 2013
Cetakan            : Pertama
Tempat Terbit  : Jakarta
ISBN                : 978-979-22-9473-6
Harga               : Rp. 75.000
Bahasa            : Indonesia, Minang, Sunda, Inggris, Arab
Tokoh               : Alif Fikri sebagai tokoh utama
Dinara sebagai isteri Alif
Raisa dan Randai sebagai teman Alif

Unsur instrinsik

*      Tema                             : cinta dan perjuangan

*      Watak                           :

§  Alif                       : penyabar , pekerja keras , pantang menyerah .

§  Raisa          : setia dan penyabar .

§  Randai        : suka menyinggung perasaan teman .

*      Alur                                 : maju .

*      Sudut pandang         : orang ketiga pelaku utama .

Unsur ekstrinsik

*      Isi novel / ringkasan :

langit dan sedalam lautan kemudian pulanglah kamu bila saatnya tiba. Novel Rantau 1 Muara menceritakan kelanjutan kisah perjalanan hidup Alif Fikri setelah tamat dari Pondok Madani, Alif melanjutkan pendidikannya disalah satu perguruan tinggi di Bandung. Karena hobi menulis Alif ikut menjadi penulis majalah kampus, dia pun ikut dalam demonstrasi penurunan jabatan Pak Soeharto. Setamat kuliah cobaan demi cobaan silih berganti menerpa Alif bagaikan angin yang berhembus tiada henti, meski Alif diwisuda dengan nilai terbaik namun Dia lulus pada akhir 90-an, ketika Indonesia dicekik krisis ekonomi.Dia kehilangan orang terdekatnya dan juga misi hidupnya. Dari mana dia bermula dan kemana dia akhirnya akan bermuara?

Di Bandung Alif Kuliah jurusan Hubungan Internasional dan diwisuda dengan nilai terbaik tapi Dia lulus pada saat yang salah, akhir 90-an Indonesia sedang dicekik krisis ekonomi, banyak kerusuhan saat Pak Soeharto akan lengser. Sampai Alif harus meminjam uang dari ATM karena media massa hanya menerima sedikit tulisannya, uang untuk Amak berkurang, debt collector datang menagih hutang, bagaimana dia mengatasinya? Secercah harapan muncul ketika Alif diterima menjadi wartawan di Ibu Kota, disana hatinya tertambat pada seorang gadis yang pernah dia curigai. Takdir menerbangkannya ke Washington DC. Sebagai mahasiswa S-2 Disana cobaan lebih berat dari pada di Indonesia, mereka datang silih berganti, satu tuntas dua lagi muncul. Setamat kuliah Alif menjadi wartawan disana, hidupnya menjadi lebih baik dan bahagia. Sampai kejadian 9/11 di New York, Dia kehilangan orang terdekatnya yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Alif merenung, memikirkan kembali misi hidupnya, apakah Dia harus pulang dengan hasil kecil atau menetap untuk hasil yang lebih baik. Seperti kesempatan menjadi wartawan di London, Inggris. Banyak waktu Dia habiskan untuk berpikir, sampai akhirnya tekat Alif bulat untuk pulang ke Indonesia dengan hasil kecil. Meski begitu Alif selalu bersykur karena imiannya saat di Pondok Madani dulu terwujud, “merantau ke Amerika”.  Karena syukurnya tersebut, Allah menambah nikmat kepada Alif. Sebelum ke bandara Dia berpamitan dengan rekan-rekan kerja di kantor, atasan Alif memanggilnya ke kantor, disana Dia diberitahu bahwa ada lowongan kerja untuk nya di Jakarta dengan hasil Amerika(hasil bagus). “Alhamdulillah, kerja di Indonesia gaji Amerika, apa lagi yang kurang?”

Ada pepatah mengatakan, “jika kau bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah.” Alif bukan anak orang kaya, bukan anak orang berkuasa, dan bukan pula anak orang terpandang, tapi dengan tulisan-tulisan dan doa dari orang terdekatnya Alif bisa mewujudkan mimpinya itu. Carilah ilmu setinggi .

 

*      Komentar : @delia123 “bagus, terima kasih infonya 🙂 izin nge-save :)”

 

 

Sekian

Leave a Reply