tugas biografi si buku cetak

Tugas Hal 214

1.  Mengapa teks tersebut tergolong ke dalam biografi?

Jawab: Karena teks tersebut berisi riwayat hidup serta kisah kisah  atau pengalaman seseorang.

2.  Apakah isi dari teks biografi tersebut?

Jawab: isi dari teks biografi tersebut adalah menceritakan tentang putri Ameerah Al Taweel dari setelah menikah dengan pangeran Alwaleed bin Talal bin Abdul Aziz sampai sudah bercerai dan masih memperjuangkan hak-hak wanita di Arab Saudi.

3.  Bagaimanakah pola penyajian teks biografi tersebut?

Jawab:alur maju

 

4.  Siapakah nama tokoh yang biogrfinya sedang dibacakan?

Jawab: Putri Ameerah bint Aidan bin Nayef Al-Taweel Al-Otaibi 

5.  Apa peranannya sehingga ia layak dibuatkan biografi?

Jawab: karena beliau adalah seorang aktivis hak wanita di Arab yang memperjuangkan hak-hak wanita Arab. 

6.  Bagaimanakah masa kecilnya?

            Jawab: putri Ameerah berasal dari kalangan rakyat biasa dan dibesarkan oleh ibunya yang seorang janda serta kakek dan neneknya.

 

7.  Bagaimanakah masa mudanya?

Jawab: beliau menghabiskan masa muda nya dengan bersekolah dan menikah pada usia 18 tahun.

 

8.  Kesulitan atau masalah apa yang pernah dialaminya?

Jawab:komentar negatif masyarakat yang menyebut bahwa beliau hanya mengincar harta suaminya.

 

9.  Bagaimana ia mengatasi kesulitan kesulitan itu?

Jawab: Dengan terus berjuang tanpa mendengarkan perkataan masyarakat tentang dirinya dan tetap memperjuangkan hak wanita Arab.

 

10.  Karya apa saja yang telah dibuatnya?

Jawab: bukan karya melainkan sebuah yayasan sosial yaitu Tasamy Social Initiatives Center.

 

11.  Apabila bertemu dengan tokoh tersebut apa yang akan kamu lakukan atau kamu tanyakan?

Jawab: saya akan meminta motivasi beliau untuk masa depan saya dan cara yang harus saya lakukan.

 

Tugas Hal 216

Struktur teks biografi

1. Orientasi

Berisi tentang pengenalan terhadap tokoh  

Sosoknya bisa jadi memunculkan rasa iri bagi banyak wanita di dunia: wajah jelita, tubuh molek, pintar, dan kaya raya. Ya, Ameerah Al-Taweel sepertinya memiliki segala yang diinginkan dalam kehidupan ini. Nama Ameerah mencuat ketika ia menikah dengan Pangeran Alwaleed bin Talal bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. Kecantikan dan keanggunannya kontan mencuri perhatian dunia. Semua orang penasaran dengan si jelita yang menikahi salah satu pangeran terkaya di dunia itu. 

2. Peristiwa/Masalah

Berisi tentang masalah masalah yang dihadapi oleh tokoh

Ketulusan dan semangat wanita kelahiran 6 November 1983 itu membungkam komentar negatif tentangnya. Gosip yang menyebut-nyebut bahwa Ameerah sebenarnya hanya mengincar kekayaan Pangeran Alwaleed yang konon mencapai 27 miliar dolar AS pun, surut dengan sendirinya. Penampilannya yang selalu chic kerap menghiasi halaman rubrik berita kerajaan di beragam media. Ia pun melejit sebagai salah satu ikon fashion dunia.

 

Antusiasme Ameerah untuk membela hak-hak wanita di Timur Tengah menjadi buah bibir, khususnya di media internasional. Pasalnya, apa yang ia perjuangkan kontradiktif dengan situasi yang berlangsung di negaranya. Bukan rahasia umum bahwa hak-hak wanita di Arab Saudi sangatlah terbatas. Seperti diungkapkan Ameerah dalam wawancara dengan Forbes (2012), bahwa wanita sarjana di negaranya sudah mencapai angka 57%, namun hanya 15% di antaranya yang boleh bekerja atau berkiprah di ranah publik. 

Situasi ini kerap dikritik Ameerah. Sikap kritis inilah yang membuahkan kondisi tidak menyenangkan baginya. “Saya menerima banyak komentar negatif, terkadang ancaman. Banyak wanita juga tidak setuju dengan gerakan yang saya mulai. Saya mungkin hanya mewakili jumlah minoritas dari wanita muda Arab,” kata wanita yang lulus magna cum laude dari University of New Haven, ini.  

Ameerah tak gentar, ia tidak segan mengungkapkan opininya. Dukungannya terhadap pemberdayaan kaum wanita di bidang profesional tetap gencar. Selain itu, Ameerah juga tetap menyokong dicabutnya larangan mengemudi bagi kaum wanita Arab. Baginya, wanita Arab berhak untuk memperoleh hak yang sama dengan pria. Ia yakin, ada banyak wanita yang berpikiran sama dengannya, namun kerap kesulitan untuk menyuarakan kehendaknya. “Kami memang berpendidikan, kami tahu apa yang kami mau, namun kami tidak terorganisasi,” ucapnya. 

Liberalisme Ameerah ini ternyata berujung tajam. Ameerah mendapat  teguran keras dari iparnya, Pangeran Khalid bin Talal bin Abdul Aziz. Komentar tajam dan kritis Ameerah dianggap melanggar nilai-nilai keluarga, agama, kerajaan, dan masyarakat Arab Saudi. Tak berapa lama setelah mendapat teguran keras ini, Ameerah dikabarkan bercerai dari Pangeran Alwaleed. Publik pun berspekulasi bahwa perceraian mereka dipicu oleh sikap kritis Ameerah tersebut.  

 

3. Reorientasi

 Perceraian  ini justru  menampilkan sosok Ameerah yang mandiri tanpa dibayang-bayangi sosok (mantan) suaminya. Aktivitas Ameerah di panggung global untuk membela hak-hak wanita di Timur Tengah pun tidak surut. “Nenek saya berkata kepada ibu saya bahwa bergerak itu harus setapak demi setapak. Ibu juga mengatakan hal serupa kepada saya. Tapi, saya tidak akan mengatakan hal yang sama kepada putri saya. Kami tidak akan bergerak setapak demi setapak. Kami tidak sabar, kami inginperubahan segera,” katanya.(f)

 

 

 

 

 

 

 

Tugas Hal 223

Alur Cerita         : diawali dengan beliau setelah menikah 
             sampai bercerai.

Sudut Pandang     :Orang ketiga serba tahu

Gaya Penulisan      :Deskriptif naratif

Fokus Penceritaan  :Perjuangan dalam pemberdayaan kaum
                                   wanita di Arab.

 

Tugas Hal 226

Kepribadian Unggul        : Sebagai sosok yang cerdas

Kutipan Teks Biografi     :  Ameerah kini menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) dari Time Entertainment Holding, perusahaan yang memfokuskan investasinya pada media dan teknologi yang dikelola kaum muda Arab. 

Kepribadian Unggul        : Sebagai sosok panutan

Kutipan Teks Biografi     :

 

Ameerah tak gentar, ia tidak segan mengungkapkan opininya. Dukungannya terhadap pemberdayaan kaum wanita di bidang profesional tetap gencar. Selain itu, Ameerah juga tetap menyokong dicabutnya larangan mengemudi bagi kaum wanita Arab. Baginya, wanita Arab berhak untuk memperoleh hak yang sama dengan pria. Ia yakin, ada banyak wanita yang berpikiran sama dengannya, namun kerap kesulitan untuk menyuarakan kehendaknya. “Kami memang berpendidikan, kami tahu apa yang kami mau, namun kami tidak terorganisasi,” ucapnya. 

Leave a Reply