Resensi Novel99 cahaya di langit eropa

 

Resensi Novel 99 Cahaya di Langit Eropa

 

 

Judul Buku    : 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis         : Hanum Salsabila Rais, Rangga Almahendra
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan       : Kelima, Desember 2012
Tebal                     : 392 hal

 

 

 

Sinopsis  :


Hanum menyusul suaminya ke Wina, Austria yang mendapat beasiswa studi doktoral. Kemampuan bahasa Jerman yang minim membuat Hanum menjalani kursus bahasa Jerman. Selama kursus itulah Hanum berkenalan dengan Fatma, wanita asal Turki yang berhasil menggugah jiwa kelana Hanum untuk menyusuri jejak Islam di Eropa.

      Fatma yang notabene hanya seorang ibu rumah tangga ternyata memiliki wawasan luas tentang sejarah Islam di Eropa. Bukan hanya itu, kebesaran hati seorang Fatma yang menerima cerca dari kalangan non muslim menyadarkan Hanum, bahwa Islam seharusnya dimaknai luar dan dalam. Bukan sekedar casing  yang Islam, namun jiwa dan pikiran kaum bar-bar.

Sayangnya Fatma tiba-tiba menghilang setelah mereka mengikat janji akan berkelana bersama menapaki jejak Islam yang ada di Spanyol, Perancis, dan Turki yang pernah berjaya pada masanya. Demi memenuhi janji itu Hanum kemudian mulai menjelajah sendiri bersama suami.

Paris the Light of City, kota yang paling terang cahayanya di Eropa. Kota yang menjadi pusat peradaban paling maju di Eropa. Kota yang pertama kali Hanum kunjungi untuk mengendus keberadaan Islam pada jaman dulu.

Hanum sungguh tercengang ketika mengunjungi Museum Louvre, museum dengan koleksi paling lengkap di dunia, museum yang  menyimpan lukisan Monalisa yang terkenal itu. Bagi Hanum, Monalisa dengan senyum misterius kalah menarik dengan lukisan Bunda Maria yang ujung kain kerudungnya terdapat tulisan kalimat tauhid atau piring-piring hias bertulis Arab Kufic.

 

          Belum lengkap rasanya jika ke Spanyol tanpa mengunjungi Granada, Istana Al-Hambra. Tempat terakhir Islam bertahan di Eropa. Sayang, the royal couple, Isabella-Ferdinand yang memiliki kekuasaan besar berhasil membuat Granada jatuh ke tangannya untuk kemudian melakukan pembaptisan masal orang-orang muslim yang menjadi mayoritas masyarakat Granada. 

          Sebuah email mengejutkan datang dari Fatma membuat Hanum ingin segera mengunjungi imperium Islam terakhir pada masa Dinasti Usmaniyah atau Ottoman di Turki sekaligus menengok kawan lama Fatma Pasha. Ini menjadi perjalanan terakhir Hanum dalam mengarungi samudera peradaban Islam di Eropa.

 

Pada akhirnya, kata-kata Paulo Coelho dalam buku The Alchemist, ‘Pergilah untuk kembali, mengembaralah untuk menemukan jalan pulang. Sejauh apa pun kakimu melangkah, engkau pasti akan kembali ke titik awal.’  Membawa Hanum menjejak ke titik awal dari sebuah perjalanan panjang Islam di sebuah kota Mekah di satu titik pusat Ka’bah. Di mana kalimat tauhid masih bergema dari jutaan manusia pencari cahaya.

 

Tema:

 

Perjalanan nepak jejak islam di Eropa.

 

Alur

Alur dari novel ini menggunakan alur maju mundur artinya dalam cerita terjadi flashback ke masa lalu dan kejadian yang akan datang.

 


Kelebihan
:


Membaca buku 99 Cahaya di Eropa, serasa ikut mengembara langsung ke Eropa dan sekaligus belajar sejarah Islam di Eropa yang begitu  membanggakan dan mengharukan dan mengajak kita untuk mengamalkan Islam secara total melalui perilaku yang mencerminkan Islam, lewat contoh tokoh yang bernama Fatma.

Kelemahan :


Pemotongan sub bab dalam buku terkesan dipaksakan. Ketika telah sampai pada akhir sub bab, tiba-tiba kita masuk kembali pada rangkaian cerita sebelumnya yang terputus dan bagian awal epilog yang kurang memberikan kesan. 

Amanat :


amanat dari  novel 99 cahaya dilangit eropa dapat kita petik yaitu kita dapat lebih mencintai agama islam dan kita bisa memperbaiki akhlak kita kedepannya.

 

Kesimpulan :


Kehancuran Islam di Eropa adalah karena setitik nila perang saling menguasai yang menyebabkan trauma berkepanjangan. Jika proses masuknya Islam terus konsisten melalui cara damai seperti di Indonesia tentulah, Eropa hingga kini masih bercahaya sebagaimana Cordoba berhasil menerangi abad gelap di Eropa.
Kini minoritas Islam di Eropa harus berjuang untuk mengembalikan citra Islam yang keras menjadi lembut,  seperti Fatma yang tetap santun meski mendengar hujatan dari orang-orang Eropa non muslim. Itulah sejatinya Islam, agama yang cinta damai.
Sayang, selalu dan masih saja ada yang memaknai Islam harus ditegakkan dengan jalan yang keras, menebar teror melalui hembusan jihad, atau demo yang berujung anarkhis seperti di Indonesia. Sudah saatnya umat Islam belajar dari kegagalan Islam berjaya di Eropa. Nafsu untuk menjadi lebih, nafsu untuk menguasai, dan nafsu merasa paling benar atas nama agama hanya akan memperburuk citra Islam di mata dunia. 

 

 

Leave a Reply