Biogarafi Zalfitri TK Makhdum oleh Shahibul Ihsan kelas XMIPA7

 

Biografi Zalfitri TK Makhdum

            Zalfitri lahir di Aripan Solok, 18 Desember 1970. Ia kecil di keluarga yang sangat sederhana , setiap hari ia habiskan dengan membantu orangtuanya ke sawah dan ke ladang dan sesekali ia bermain dengan teman-temannya di sawah sambil menggembalakan sapi-sapinya.

            Zal lahir di Aripan Solok dari pasangan Rohani & Jamias. Ia bersama 3 saudaranya yang lain di besarkan di desa terpencil itu. Setelah tamat SD ia disuruh oleh ayahnya untuk melanjutkan menimba ilmu di pesantren yang letaknya cukup jauh dari tempat ia tinggal yaitu di Koto Marapak ia menerima usulan Ayahnya tersebut karena menurutnya itu merupakan pilihan yang terbaik “Sebagai anak yang baik Saya tidak ingin mengecewakan ayah saya yang begitu menyayangi saya, jadi apapun yang disuruhnya akan saya lakukan” begitu jelasnya.

            Ia menimba ilmu di Koto Marapak selam dua setengah tahun. Setelah merasa ilmunya telah mumpuni ia pun pindah Ke Pesantren Nurulyaqin Ringan-Ringan Pakandangan ia melanjutkan menimba ilmu disana. Setelah ia tamat kelas lima, karena ada krisis guru di kelas enam jadi semua santri yang tamat kelas lima bisa lanjut ke kelas tujuh tetapi karena ia ragu dengan kemampuannya ia merasa ia tak kan sanggup bila ia langsung lanjut ke kelas tujuh. Ia pun berhenti sebentar selama satu tahun untuk menimba lebih banyak ilmu ke Koto Buruak bersama pamannya yang juga memiliki pesantren kecil disana.

            Setelah satu tahun ia pun kembali ke ringan-ringan dan satu tahun kemudian ia diangkat menjadi Tuangku ia sangat bangga dengan hal itu. Tahun 1997 ia dijodohkan oleh orangtua nya dengan seorang gadis ia pun menyetujui perjodohan itu karena ia sangat menyayangi orangtua nya ia tidak mau sedikitpun membuat mereka terluka.

            Setelah menikah ia pun membawa istrinya merantau ke pauhkambar lalu ia mendirikan sebuah pesantren disana bisa dibilang pesantren yang dibuatnya cukup sukses muridnya mencapai 300orang lalu pada tahun 2010 karena gempa besar yang menimpa sumbar pada tahun 2009 santri pesantren mengalami pengurangan yang begitu besar. Pesatren itu pun tidak bisa beroperasi lagi karena masalah itu.

            Setelah itu ia dipanggil oleh Kepala Pesantren Ringan-Ringan ia disuruh untuk mengajar di pesantren itu dimana tempat ia belajar dulu, ia mengajar di kelas paling tinggi yaitu kelas tujuh ia pun sampai kini ia masih mengajar disitu.

            Selama pernikahannya ia dianugrahi 3orang anak yaitu Shahibul Ihsan, Nailatul Fitrah Dan Karima Haura Zuhda. Ia mengaku selama kehidupannya hingga sekarang ini ia merasa sangat bahagia.

Leave a Reply